Saya tidak pernah tahu bagaimana
cara menuliskannya. Saya hanya tahu bagaimana bercerita melalui mulut alias
berbicara bukan melalui tulisan. Saya beberapa waktu terakhir aktif dalam
social media baik untuk menyiarkan suatu berita atau foto tetapi saya lebih
menggunakan whatsapp untuk bercakap-cakap atau lebih suka disebut sebagai chatting. Saya terinsipirasi dengan
seorang teman, yang menuliskan pengalamannya melalui tulisan dalam bentuk buku.
Saya membaca bukunya dan dia begitu gape
menjelaskan dalam di dalam bukunya itu. Jika dia saja bisa, berarti saya juga
bisa hanya masalah mau apa tidak dan kapan mau memulainya. Ide atau lebih baik
disebut sebagai niat untuk menulis sih
ada tetapi untuk memulainya lebih kepada
tarsok… tarsok alias bentar besok bentar besok yang mana tidak pernah
terjadi, waktu lepas waktu akhirnya berlalu seperti angin. Saya pernah bertemu
dengan seorang teman pada jaman dahulu kala… seperti prolog pada suatu cerita,
hahhahahaha… teman saya itu, suka sekali menulis yang mana saya tahu kalau ada
media yang bisa digunakan untuk menyalurkan bakat atau kebiasaan tersebut yaitu blog. Waktu itu, saya ikutan membuat blog dengan tujuan bisa menjadi blogger tetapi hanya berjalan sejenak
alias sekejap saja seperti kita mengedipkan mata setalah kita membuka mata
hilang sudah. Teman saya bertanya kepada saya, apakah saya sudah menulis di blog, saya bilang kalau sudah tetapi
seringnya mentok…tok…tok. ‘ Jangan berenti
terusin..’. Saya bilang, “ lo kan udah
dari dulu nulis di buku harian, yah notabene lebih gampang kan”, terus dia menjawab sembari memukul lengan saya, “ itu mah lo aja yang males”. Saya hanya bisa nyengir
sambil menjulurkan lidah.
Okay, kembali kepada pembicaraan
awal. Saya seringkali mempunyai ide
untuk dicurahkan dalam bentuk tulisan tetapi sering kali hilang seperti ditiup
angin. Saya harap melalui awal menulis
ini bisa menajdi suatu kebiasaan baik yang berkelanjutan tidak sekapeung atau hangat-hangat tahi
ayam. Nah kan, mentok ga tahu mau nulis apa lagi. Okay, saya
ingat, kalau di social media yang mana biasa disebut sebagai
sosmed, saya akan menaruh icon. “
Langkah pertama pasti sulit tetapi bukan berarti tidak bisa”, jadi mulailah
saya memutuskan untuk menulis mumpung
masih panas. Semoga kebiasaan ini boleh berakar serta bertumbuh dan berbuah
yang menjadi berkat bagi yang membacanya. Saya baru bisa menulis sampai sini
tetapi saya harap ini bisa menjadi awal yang baik.
Saya teringat pernyataan dari
salah satu pembicara motivasi, JohnC. Maxwell, jika dia suatu saat dia teringat
akan suatu hal atau idem aka dia selalu menuliskannya oleh karena itu dia
selalu membawa buku kecil untuk menuliskan idenya dan dia melakukan review atau tinjauan ulang dan mulai
melakukan klasifikasi dan mengelompokkan dari ide-ide yang sudah tercetus dan dituliskan.
Jika ada salah satu ide-ide tersebut lebih mungkin untuk bisa ditelurkan dan
ditetaskan maka mulailah dilakukan telaah dan mencari referensi. Metode yang dilakukan oleh John C. Maxwell seperti menuliskan
ide atau inspirasi saya sudah pernah membaca dan mendengar mengenai hal
tersebut tetapi hanya seperti angin lalu saja, tahu tapi tidak pernah ada
tindak lanjutnya. Saya akan coba lakukan apa yang kebanyakan para pembicara
maupun penulis lakukan terhadap ide dan atau inspirasi yang mereka peroleh
melalui mencatat setelah itu melakukan klasifikasi dan memutuskan pilihan mana
yang akan di ‘erami’ sampai menetas selayaknya telur. Proses mengerami ini
tidak berbicara hanya 1 jam atau 1 hari saja tetapi relatif, mungkin seperti
teori relatifitas yang ditelurkan oleh Einstein yang mana saya juga tidak
terlalu mengerti mengenai hal tersebut, tergantung seberapa sederhana atau
kompleksitas dari ide tersebut.
Eh, mulai nge-link nih ide untuk menulis. Awal dari
segala sesuatu mungkin sulit karena dilakukan banyak perubahan yang mana salah
satunya adalah merubah kebiasaan atau membentuk kebiasaan yang baru. Saya
mempunyai kebiasaan untuk berjalan pagi atau sore hari untuk meningkatkan
stamina serta menjaga kesehatan badan. Jika orang-orang bertanya ataupun bercerita
bagaimana sulitnya untuk memulai ada kecenderungan untuk berhenti sebelum
sampai setengah jalan alias tidak meneruskan lagi, nyerah. Saya harus akui jika saat pertama itu sulit tetapi masih
bisa dilakukan tingkat selanjutnya adalah menjadikan hal tersebut menjadi
kebiasaan yang diawali dari intensitas atau frekuensi yang sejalan dengan waktu
bergerak maju atau bertambah. Apakah hal ini mudah? Yah, seperti saya sudah
utarakan sebelumnya, apakah hanya hangat-hangat tahi ayam? Kita pasti akan
menggembar-gemborkan kalau kita sudah begini atau begitu kan? Namun setelah
beberapa saat aka nada orang-orang disekeliling kita bertanya, ‘ Udah sampe mana lo kalo jalan? Atau
‘Masih jalan pagi lo?’ kemudian
jawabannya seperti ini, ‘ Hmmmm, udah
ngganih’, ‘ Gua sibuk’, ‘ Gua cape’ dan beribu alasan tercetus. Lantas
teman-teman kita akan berkata, Niat lo
gimana katanya mo sehat? Niat kaga
sih lo? Jika respon yang seperti itu kita terima apa yang akan kita
lakukan, apakah melanjutkan kebiasaan berjalan atau tidak? Apakah melalui
komentar-komentar tersebut memotivasi kita untuk tetap maju atau mundur. Saya
pernah mendengan ada orang yang berkata, “ dalam hidup ini hanya ada dua
langkah yaitu, melangkah maju atau melangkah mundur?” Nah kan, bingung sambil
matanya melihat entah ke atas kiri atau kanan. Saya juga sama ketika mendengar
hal tersebut, kemudian saya merenung, saya mendapati bahwa kita hanya bergerak
maju dan jika tidak bergerak berarti kita mundur. Kenapa mundur? Kita kan hanya
diam di tempat tidak bergerak, bagaimana bisa dikatakan mundur? Karena ada
kecenderungan untuk tidak mau mengikuti keadaan sekelilingnya yang terus
berjalan sementara kita hanya diam saja menjadi penonton yang tidak melakukan
tindakan untuk ikut melangkah maju sehingga tidak perkembangan, maka hal ini
bisa dikatakan kemunduran bukan?
Kita hidup dalam bumi yang
berotasi pada porosnya serta dalam revolusi mengitari matahari, marilah kita
melangkah maju mulai dari hal yang kecil atau sederhana. Semua dimulai dari
satu langkah pertama dan inilah langkah ( pertama) saya yang mana bisa tetap
berlanjut secara konstan.
No comments:
Post a Comment