Sunday, July 10, 2016

Minggu Siang

Hari Minggu siang, saya sedang berusaha untuk men-download foto-foto melalui instagram yang mana membutiuhkan informasi yang lebih banyak lagi ternyata saya harus belajar lebih banyak lagi, tidak sesederhana yang saya perkirakan. Jadi saya hanya bisa belajar kembali untuk bisa meng-upload foto-foto tersebut. 
Akhirnya, saya bisa melakukan upload, meski perlu usaha dengan mencari informasi lebih banyak lagi. Sementara saya masih melakukan download, saya hanya bisa memperhatikan orang-orang yang ada disekeliling saya. Saya bisa menikmati apa yang saya peroleh melalui keadaan sekeliling saya. Orang-orang yang berbagai bentuk dan budaya yang sudah pasti mempunyai topiknya bicarakan pun sudah pasti berrbeda. 
keberagaman inilah yang membuat warna warni dunia baik itu yang memberikan 'warna' positif atau negatif. 

Oalah, ternyata saya salah meng-upload foto-foto. Ya, sudahlah mau apalagi, Saya akan melakukan upload lagi, sementara itu saya akan mencoba menulis. Yah hanya belajar menulis dan menulis yang mana masih dalam proses belajar bagaimana bisa mengutarakan apa yang ada dalam hati dan pikiran. Saya pernah berbicara dengan beberapa orang mengenai bagaimana sih caranya menulis atau mengarang, kebanyakan orang hanya mengatakan kerjakan saja, cobalah dengan menuliskan apapun itu yang ada di dalam hati dan pikiran. Saat ini sedang saya kerjakan, tetapi saya sama sekali belum punya ide untuk dituliskan. 

Saya teringat akan salah satu tulisan dari dari seorang penulis, kalau tidak salah namanya Samuel Mulia, di harian Kompas yang biasa dimuat setiap hari minggu, bagaiman dia bercerita mengenai apa yang ada dalam hati dan pikiran dia. Saya salut dengan cara penulisan dia yang dapat menggambarkan secara gambalang apa yang sedang ada di pikirian dan hatinya. Saya pernah membaca mengenai pengalaman seorang dokter yang melakukan PTT di Tiom, kabupaten Lanny Jaya, Papua. Saya sangat menyukai cara penyampaiannya yang gamblang dan sederhana. 

Yah, semua ini dimulai dari langkah pertama disertai dengan ketekunan untuk mencapai keluwesan dalam penyampaian buah pikiran yang terkandung dalam hati dan pikiran. 

Ah sepertinya sudah selesai proses upload sudah selesai, jadi sekarang saya melanjutkan perkejaan saya kembali, saya harap saya bisa menuliskan kembali buah pikiran di hari yang akan datang...

Sunday, May 15, 2016

Akhirnya Menulis (lagi)

Saya tidak pernah tahu bagaimana cara menuliskannya. Saya hanya tahu bagaimana bercerita melalui mulut alias berbicara bukan melalui tulisan. Saya beberapa waktu terakhir aktif dalam social media baik untuk menyiarkan suatu berita atau foto tetapi saya lebih menggunakan whatsapp untuk bercakap-cakap atau lebih suka disebut sebagai chatting. Saya terinsipirasi dengan seorang teman, yang menuliskan pengalamannya melalui tulisan dalam bentuk buku. Saya membaca bukunya dan dia begitu gape menjelaskan dalam di dalam bukunya itu. Jika dia saja bisa, berarti saya juga bisa hanya masalah mau apa tidak dan kapan mau memulainya. Ide atau lebih baik disebut sebagai niat untuk menulis sih ada tetapi untuk memulainya lebih kepada tarsok… tarsok alias bentar besok bentar besok yang mana tidak pernah terjadi, waktu lepas waktu akhirnya berlalu seperti angin. Saya pernah bertemu dengan seorang teman pada jaman dahulu kala… seperti prolog pada suatu cerita, hahhahahaha… teman saya itu, suka sekali menulis yang mana saya tahu kalau ada media yang bisa digunakan untuk menyalurkan bakat atau kebiasaan tersebut yaitu blog. Waktu itu, saya ikutan membuat blog dengan tujuan bisa menjadi blogger tetapi hanya berjalan sejenak alias sekejap saja seperti kita mengedipkan mata setalah kita membuka mata hilang sudah. Teman saya bertanya kepada saya, apakah saya sudah menulis di blog, saya bilang kalau sudah tetapi seringnya mentok…tok…tok. ‘ Jangan berenti terusin..’. Saya bilang, “ lo kan udah dari dulu nulis di buku harian, yah  notabene lebih gampang kan”, terus dia menjawab sembari memukul lengan saya, “ itu mah lo aja yang males”. Saya hanya bisa nyengir sambil menjulurkan lidah.
Okay, kembali kepada pembicaraan awal.  Saya seringkali mempunyai ide untuk dicurahkan dalam bentuk tulisan tetapi sering kali hilang seperti ditiup angin.  Saya harap melalui awal menulis ini bisa menajdi suatu kebiasaan baik yang berkelanjutan tidak sekapeung atau hangat-hangat tahi ayam.  Nah kan, mentok ga tahu mau nulis apa lagi. Okay, saya ingat, kalau di social media yang mana biasa disebut sebagai sosmed, saya akan menaruh icon. “ Langkah pertama pasti sulit tetapi bukan berarti tidak bisa”, jadi mulailah saya memutuskan untuk menulis mumpung masih panas. Semoga kebiasaan ini boleh berakar serta bertumbuh dan berbuah yang menjadi berkat bagi yang membacanya. Saya baru bisa menulis sampai sini tetapi saya harap ini bisa menjadi awal yang baik.
Saya teringat pernyataan dari salah satu pembicara motivasi, JohnC. Maxwell, jika dia suatu saat dia teringat akan suatu hal atau idem aka dia selalu menuliskannya oleh karena itu dia selalu membawa buku kecil untuk menuliskan idenya dan dia melakukan review atau tinjauan ulang dan mulai melakukan klasifikasi dan mengelompokkan dari ide-ide yang sudah tercetus dan dituliskan. Jika ada salah satu ide-ide tersebut lebih mungkin untuk bisa ditelurkan dan ditetaskan maka mulailah dilakukan telaah dan mencari referensi. Metode  yang dilakukan oleh John C. Maxwell seperti menuliskan ide atau inspirasi saya sudah pernah membaca dan mendengar mengenai hal tersebut tetapi hanya seperti angin lalu saja, tahu tapi tidak pernah ada tindak lanjutnya. Saya akan coba lakukan apa yang kebanyakan para pembicara maupun penulis lakukan terhadap ide dan atau inspirasi yang mereka peroleh melalui mencatat setelah itu melakukan klasifikasi dan memutuskan pilihan mana yang akan di ‘erami’ sampai menetas selayaknya telur. Proses mengerami ini tidak berbicara hanya 1 jam atau 1 hari saja tetapi relatif, mungkin seperti teori relatifitas yang ditelurkan oleh Einstein yang mana saya juga tidak terlalu mengerti mengenai hal tersebut, tergantung seberapa sederhana atau kompleksitas dari ide tersebut.
Eh, mulai nge-link nih ide untuk menulis. Awal dari segala sesuatu mungkin sulit karena dilakukan banyak perubahan yang mana salah satunya adalah merubah kebiasaan atau membentuk kebiasaan yang baru. Saya mempunyai kebiasaan untuk berjalan pagi atau sore hari untuk meningkatkan stamina serta menjaga kesehatan badan. Jika orang-orang bertanya ataupun bercerita bagaimana sulitnya untuk memulai ada kecenderungan untuk berhenti sebelum sampai setengah jalan alias tidak meneruskan lagi, nyerah. Saya harus akui jika saat pertama itu sulit tetapi masih bisa dilakukan tingkat selanjutnya adalah menjadikan hal tersebut menjadi kebiasaan yang diawali dari intensitas atau frekuensi yang sejalan dengan waktu bergerak maju atau bertambah. Apakah hal ini mudah? Yah, seperti saya sudah utarakan sebelumnya, apakah hanya hangat-hangat tahi ayam? Kita pasti akan menggembar-gemborkan kalau kita sudah begini atau begitu kan? Namun setelah beberapa saat aka nada orang-orang disekeliling kita bertanya, ‘ Udah sampe mana lo kalo jalan? Atau ‘Masih jalan pagi lo?’ kemudian jawabannya seperti ini, ‘ Hmmmm, udah ngganih’, ‘ Gua sibuk’, ‘ Gua cape’ dan beribu alasan tercetus. Lantas teman-teman kita akan berkata,  Niat lo gimana katanya mo sehat? Niat kaga sih lo? Jika respon yang seperti itu kita terima apa yang akan kita lakukan, apakah melanjutkan kebiasaan berjalan atau tidak? Apakah melalui komentar-komentar tersebut memotivasi kita untuk tetap maju atau mundur. Saya pernah mendengan ada orang yang berkata, “ dalam hidup ini hanya ada dua langkah yaitu, melangkah maju atau melangkah mundur?” Nah kan, bingung sambil matanya melihat entah ke atas kiri atau kanan. Saya juga sama ketika mendengar hal tersebut, kemudian saya merenung, saya mendapati bahwa kita hanya bergerak maju dan jika tidak bergerak berarti kita mundur. Kenapa mundur? Kita kan hanya diam di tempat tidak bergerak, bagaimana bisa dikatakan mundur? Karena ada kecenderungan untuk tidak mau mengikuti keadaan sekelilingnya yang terus berjalan sementara kita hanya diam saja menjadi penonton yang tidak melakukan tindakan untuk ikut melangkah maju sehingga tidak perkembangan, maka hal ini bisa dikatakan kemunduran bukan?

Kita hidup dalam bumi yang berotasi pada porosnya serta dalam revolusi mengitari matahari, marilah kita melangkah maju mulai dari hal yang kecil atau sederhana. Semua dimulai dari satu langkah pertama dan inilah langkah ( pertama) saya yang mana bisa tetap berlanjut secara konstan.

Thursday, October 2, 2014

Kondisi Ini, Bersyukur Atau Sebaliknya...

Tadi pagi, ketika saya sedang di rumah saya, saya mendengar tetangga yang bersumpah serapah, marah disertai denga umpatan. Saya awalnya bingung ke mana arah pembicaraan tersebut. Saya mendengarkan saja, ternyata tetangga saya itu sedang membicarakan mengenai 'keributan' siapa yang akan memimpin wakil rakyat di pemerintahan. Saya tidak tahu dengan kondisi ini juga dibicarakan oleh orang-orang lain juga. Saya hanya mendengar, hampir semua orang di mana saya kenal itu membicarakan hal ini. Sebagian besar tidak membicarakan untuk hal yang baik tetapi lebih kepada umpatan atau keluhan bahkan kutukan. Ketika saya sedang menulis tulisan ini, saya secara tidak sadar memutuskan hubungan internet dan hal ini berdampak kepada hilangnya tulisan saya yang sebelumnya. Saya sebenarnyanpengen sekali mengumpat atau marah-marah tetapi karena tulisan ini, saya jadi malu sendiri. Saya tidak dapat bicara apa-apa lagi selain mengucap syukur. Saya hanya dapat tertawa dalam hati disertain perasaan gundah gulana. Situasi yang bisa timbul bersamaan dengan kondisi yang sedang dibicarakan dalam tulisan ini.
Kehidupan yang disertai dengan rasa syukur merupakan hal menyenangkan tetapi ketika dilakukan, apakah semudah kita mengatakannya? Kondisi kesehatan baik itu badan atau jiwa kita tergantung pada respon kita. Kita mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi jika mengeluh saja, sepertinya keluhan merupakan hal yang menyenangkan tetapi apa dampaknya terhadap badan dan jiwa kita. Pertanyaannya, jika kita berada dalam kondisi yang kurang menyenangkan, apa yang harus kita lakukan? Marah-marah atau mengucap syukur? Setiap orang akan mempunyai respon yang beda-beda terhadap kondisi ini tetapi hanya ada dua hal mendasar, mengikuti keinginan sendiri atau percaya kepada Tuhan.
Umumnya, setiap orang mengetahui dampaknya jika mereka marah-marah atau bersyukur. Sebagai contoh, saya dulu menderita sakit lambung alias maag. Setahu saya, di keluarga saya baik dari ayah maupun dari ibu tidak ada yang mengidap sakit maag ini. Penyebab dari sakit ini biasanya karena terlalu khawatir atau telat makan. Sakit ini dapat timbul dalam waktu cepat, kurang dari 10 menit, tetapi untuk menghilang butuh waktu lebih dari 10 menit bahkan bisa berhari-hari. Saya bukanlah superman dan hal ini sangat membuat kondisi yang tidak menyenangkan. Saya berusaha mencari tahu bagaimana mendapatkan kesembuhan dari sakit maag ini.
Keadaan yang tidak menyenangkan ini membuat kita berpikir mengenai sikap dan tindakan yang perlu kita lakukan. Setiap dari kita pasti pernah mengalami keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi kondisi tersebut? Jika kita hanya ingin mengikuti sesuai dengan keinginan kita saja atau mau menerima tetapi bukan menyerah. Kita terima dan berharap dalam dan berusaha untuk mendapatkan perubahan. Kita melihat berusaha, berusaha yang kita bicarakan ini bukan melakukan hal yang bertentang sehingga mendapatkan dampak kurang baik. Kita melakukan tindakan yang sesuai dengan iman kepercayaan kita. Percaya, atau iman, tanpa perbuatan pada hakekatnya tidak berdampak. Kita harus melakukan perbuatan atau tindakan yang mempunyai hasil, meskipun hal tersebut bisa dalam waktu singkat atau jangka panjang. Apakah kita ingat bahwa kita harus percaya pada Tuhan, seseorang yang menguasai dunia ini. Kita hanya perlu percaya saja dan mengikuti apa yang Tuhan ajar kepada kita.
Jadi kondisi ini, baik enak maupun tidak enak, sebaiknya kita mengucap syukur. Respon ini mempunyai dampak hidup lebih baik daripada respon yang sebaliknya. Mari, kita mengucap syukur dengan doa beserta tindakan yang sesuai.

Sunday, April 13, 2014

Jika kita mendapat keadaan kurang menyenangkan

Saya tidak tahu bagaimana harus mengungkapkannya. Jika pada suatu saat, kita mendapat kabar mengenai suatu situasi yang berbeda dengan pertimbangan atau keinginan sendiri kita harus bagaimana? Jika suatu saat, kita mendapatkan kabar dari hasil mengenai kesehatan kita, yang mana kita sama sekali tidak mengharapkan akan mendapatkan situasi tersebut, misalkan situasinya adalah suatu penyakit dengan kondisi sangat mengejutkan, kanker stadium 2. Apakah yang akan kita lakukan, bisa saja tenang atau seakan-akan bisa menerima situasi tersebut? Atau kita langsung shock dan drop saat itu juga. 
Bagaimana jika kita mendapatkan situasi mengenai tempat kita bekerja, kia dipanggil oleh atasan kita kemudian beliau mengabarkan bahwa saat bulan ini adalah saat terakhir kita bekerja dengan mereka? Saya tidak akan menyatakan bahwa saya akan lebih daripada kalian semua, bisa menerima dengan hati lapang tanpa ada respon yang berarti padahal bisa terjadi 'galau' sesaat atau tiba-tiba terkena serangan sesaat terhadap kesehatan kita, jangan sampai hal itu terjadi yah.
Saya tidak pernah tahu apa yang bisa membuat kita berubah ketika mengalami suatu situasi seperti ini. Keadaan memang bisa berubah, bahkan selalu berubah seperti cuaca setiap harinya. Apa yang harus kita lakukan jika kita mendapatkan perubahan yang membuat detak jantung lebih cepat berdetak, bukan karena kafein, otot menjadi 'tegang' bukan karena latihan beban bahkan pikiran yang tiba-tiba tidak tahu harus bertindak apa selain 'galau' bahkan stress?
Keadaan...keadaan... Jika kita hanya bisa menghela nafas dan terus berjalan? Atau menghela nafas dan roman muka berubah kemudian marah-marah atau menangis atau menghilang dari peredaran? Reaksi yang beragam pasti terjadi, tetapi situasi yang paling sulit terjadi adalah mengucap syukur untuk situasi tersebut. Saya tidak berkata jika orang yang bersyukur adalah orang 'kudus' meski situasi tersebut merupakan situasi yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan situasi kebanyakan orang tetapi kondisi inilah yang membawa dampak cukup baik terhadap badan dan jiwa orang tersebut. Saya hanya bisa berkata, jika kita ingin hidup lebih panjang lagi, marilah kita lihat situasi yang kita baru dapatkan dengan mengucap syukur dan terus berjalan dengan percaya dan berharap pada Tuhan saja. Kita tidak bisa mengharapkan kekuatan dari diri kita sendiri toh, hanya pada Tuhan saja kan...
Oleh sebab itu, marilah kita belajar untuk melihat hidup ini dari sisi yang lain dengan mengucap syukur dan berharap kepada Tuhan

Tuesday, November 12, 2013

Hanya menulis saja, bersyukur saja

Saya sedang menunggu mantan rekan bekerja saya karena kita hendak membicarakan proyek-proyek sedang berjalan saat ini. Telat, itu kemungkinan besar yang terjadi karena janji yang seharusnya itu adalah jam 10 tetapi sampai dengan saat ini batang hidung mereka belum juga nampak.
Saya hanya bisa menikmati situasi yang ada, salah satunya menuliskan apa yang ada dalam pikiran saya saat ini. Saya melihat situasi di sekeliling say orang-orang yang sedang sibuk dengan berbagai aktifitas mereka, dari mengetik, berbincang-bincang sampai membaca. Saya cukup iri dengan mereka yang sedang sibuk dengan aktifitas mereka, sebab kita tidak tahu apakah mereka bekerja atau tidak. Saya hanya bisa menikmati aktifitas yang sedang saya lakukan ini karena tidak ada hal lain yang bisa saya lakukan selain hal ini.
Semalam, saya berbincang-bincang dengan teman saya mengenai situasi menganggur saya. Dia bilang kepada saya supaya menikmati keadaan saya ini. Dia berbagi bahwa hari dia selalu penuh,tidak ada waktu yang kosong lagi. Ketika saya mulai menjalani waktu saya yang 'free', ternyata sangatlah tidak enak karena hilang motivasi dalam hidup ini. Kemalasan, itu yang saya rasakan. Ketika kita dalam situasi sibuk sampai tidak ada waktu untuk menghela nafas, itu adalah situasi yang harus tetap kita syukuri dan nikmati. Saya pun tidak tahu mengapa saya bisa mengalami hal inj, teman saya hanya bisa berkomentar, 'ya udah, lo nikmati aja dulu aja.' ' Lo pasti ngerti untuk apa semua ini ada, di future', begitu katanya sambil menyerup sisa minuman coklatnya. Saya hanya menanggapinya dengan berkata iya dan mengangguk.
Jika saya hanya bisa menggerutu dan tidak melakukan apa-apa juga tidak berguna jika saya tidak mensyukuri keadaan saya juga sama hanya bedanya yang terakhir itu memberikan dampak positif terhadap diri sendiri.
Kunci dalam hidup saya saat ini adalah bersyukur, padahal tuh kata-kata sudah lama ada dalam kehidupan saya cuman ga pernah saya lakukan.... yah, bersyukur dan nikmayi sajalah yah.....

Sunday, July 21, 2013

yah telat....

saya terpaksa nebeng kerja di salah satu 'warung' kopi dari negeri paman Sam, padahal Sam itu nama keponakan saya dan sayalah pamannya respon ga nyambung dot com.... hahahaha... 
Saya sudah nongkron kerja di 'warung' ini selama 3 jam dengan berbagai gerakan plus ke kamar mandi serta nebeng titipin liatin laptop dan tas sama orang yang bersebelahan jika saya ke kamar mandi termasuk dia juga. Yah, simbiosis mutualisme ceunah. Ketika saya memasuki jam ke 4 kerja saya tiba-tiba saya bisa liat-liatan sama seorang cewek dan kita saling terkejut seperti melihat orang yang sudah lama tidak bertemu, dan emang udah alam ngga ketemu mungkin lebih dari 4 taon kayaknya. Kita berdua sudah sama-sama bercokol di 'warung' ini, saya sempet liat dia , tapi ga sadar kalo itu teman saya, dengan muka boring di depan laptopnya. 
kita bercengkrama sejenak kemudian dia pergi karena sudah dijemput oleh supirnya. Saya hanya bisa tertawa dalam hati saya, coba saja kita sudah bertemu lebih alam sedikit kemungkinan besar kita bisa saling bertukar cerita termasuk menggantung kebosanan kita. hahahahaha.... Saya tidak tahu harus menyebut apa untuk situasi 'telat' bertemu ini... Coba saja tidak telat.... mungkin tidak perlu kejadian kali yah....

Tuesday, July 9, 2013

rutinitas, kemanakah engkau...

kita bangun pagi-pagi untuk pergi ke kantor sampai sore bekerja kemudian pulang dari kantor. Rutinitas ini terus berlanjut setiap hari, tiap minggu sampai kepada setiap bulan. Saya memang sudah bekerja selama lebih dari 5 tahun sebagai pegawai, tidak hanya sebenarnya tetapi juga orang-orang lain yang masih bekerja. Saya itu orangnya cepat bosan, jika melakukan sesuatu yang rutin, tidak berubah hanya begitu-begitu saja. Rutinitas sesuatu kata yang 'haram' dalam aktifitas saya. Teman saya bekerja sebagai orang yang selalu berjalan dengan rutinitas dan sepertinya dia menikmatinya. " Bang, kok lo masih betah sih melakukan aktifitas ini pergi pagi pulang sore dengan kerjaan begitu-begitu aja sih?", tanya saya. " Mo gimana lagi, emang seperti ini kerjaan saya, saya sih suka-suka aja mesi kadang bosen juga", jawabnya. " terus kalo lo bosen gimana ngebunuh itu bosennya?", tanya saya lagi. " yah, paling pergi liburan setelah itu kerja lagi. Emang gawean gua seperti ini', jawabnya tenang sambil kembali melihat angka-angka di layar komputernya. Saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan meninggalkan dia bekerja kembali. 

Saya tidak tahu juga mengenai hal rutinitas ini, meski saya sudah bertanya kepada beberapa orang dan mereka yang sudah mempunyai rutinitas selalu memberikan jawaban, 'jalani saja, toh untuk itu kan kita bisa dapat uang'. Jreng jreng.... hahahahaha... saya hanya bisa tertawa sewaktu mendengar kata-kata 'mendapatkan uang'. Saat ini, adalah saat yang membuat saya bingung karena saya hanya bekerja sebagai seorang pekerja paruh waktu dan kata yang saya anggap haram itu sedikit menghilang dari aktifitas saya. Sekali lagi, saya bingung karena sudah terbiasa dengan rutinitas yang seakan-akan membunuh waktu kesendirian saya dan tiba-tiba si 'rutin' menghilang perlahan-lahan seakan-akan 'ngambek'. Saat itulah, saya menjadi 'galau' rasanya karena menghilang si 'rutin' itu. Saya tak lebih dari seorang pengelana tanpa tahu harus ngapain juga, pengangguran lah. 
Saya pun mulai 'ngerecokin' orang lain deh karena menganggur ini. Saya benar-benar tidak tahu harus ngapain lagi untuk berjalan bersama waktu. Waktu itu entah cepat atau lambat namun yang pasti dia tidak perduli tetap saya berjalan tidak bisa diajak kompromi lagi. Galau, gundah karena tidak ada lagi yang memberikan rasa kembali. Situasi yang benar-benar berbanding terbalik dari seorang supir bisa yang kocar-kacir cari setoran sampai menjadi checker yang hanya duduk diam, mengobrol menunggu para bis yang lewat untuk dicek. Hari berubah menjadi minggu dan menjadi bulan. Seakan-akan saya hanya meratapi semua berlalu dengan duduk diam saja, tidak melakukan apa-apa. Tergiang di dalam hati kata-kata teman saya, entah cocok atau tidak nih kata 'terngiang', 'kita hanya berkali-kali ngocehin hal yang sama tetapi kita hanya berada di titik yang sama karena kita tidak mau bergerak atau melangkah'. Saya mencoba untuk merenungi kata-kata nasihat teman saya tersebut, memang benar jika saya hanya ribut di situ-situ saja tak pelak seperti anjing yang berputar-putar ribut mengejar ekornya saja. Ternyata, saya mendambakan 'musuh' saya itu si rutinitas. Saya mencoba mencari-cari dia, 'rutinitas', tapi seakan-akan dia hanya muncul sesekali dan hilang. Saya mulai kehilangan kesadaran saya ketika saya kehilangan si 'rutin' sampai suatu saat saya menyadari bahwa dia sebenarnya ada dibalik semua aktifitas yang seharusnya saya kerjakan. 
Si 'rutin' ini merupakan teman untuk menjadi pembelajar dan ketekunan yang mana dua temannya itu merupakan suatu hal cenderung menjadi 'musuh' sejak dari saya duduk dibangku sekolahan dulu. Saya berusaha menggandeng si 'rutin dengan menjadi pembelajar bersama ketekunan. Suatu perjuangan yang cukup memerlukan tenaga dan motivasi untuk terus maju bersama-sama disetiap waktu entah subuh, pagi, siang, sore sampai larut malam. Saya yang dahulu selalu ribut tidak ada waktu pribadi ternyata hanya perlu kebijaksaan untuk mengaturnya dan semua itu ada gunanya untuk membuat saya lebih baik lagi. 
Saat ini, saya berusaha untuk berjalan berbarengan dengan si 'rutin' berserta teman-temannya antara lain ketekunan dan kerajinan, yagn terakhir lupa saya sebutkan. Hidup ini merupakan suatu cara untuk belajar lebih baik lagi, usaha dan kerja keras disertai oleh niat. hehehehehe...
Terima kasih yah Tuhan untuk kesempatan yang telah diberikan untuk belajar mengenai hidup ini...