Sunday, May 15, 2016

Akhirnya Menulis (lagi)

Saya tidak pernah tahu bagaimana cara menuliskannya. Saya hanya tahu bagaimana bercerita melalui mulut alias berbicara bukan melalui tulisan. Saya beberapa waktu terakhir aktif dalam social media baik untuk menyiarkan suatu berita atau foto tetapi saya lebih menggunakan whatsapp untuk bercakap-cakap atau lebih suka disebut sebagai chatting. Saya terinsipirasi dengan seorang teman, yang menuliskan pengalamannya melalui tulisan dalam bentuk buku. Saya membaca bukunya dan dia begitu gape menjelaskan dalam di dalam bukunya itu. Jika dia saja bisa, berarti saya juga bisa hanya masalah mau apa tidak dan kapan mau memulainya. Ide atau lebih baik disebut sebagai niat untuk menulis sih ada tetapi untuk memulainya lebih kepada tarsok… tarsok alias bentar besok bentar besok yang mana tidak pernah terjadi, waktu lepas waktu akhirnya berlalu seperti angin. Saya pernah bertemu dengan seorang teman pada jaman dahulu kala… seperti prolog pada suatu cerita, hahhahahaha… teman saya itu, suka sekali menulis yang mana saya tahu kalau ada media yang bisa digunakan untuk menyalurkan bakat atau kebiasaan tersebut yaitu blog. Waktu itu, saya ikutan membuat blog dengan tujuan bisa menjadi blogger tetapi hanya berjalan sejenak alias sekejap saja seperti kita mengedipkan mata setalah kita membuka mata hilang sudah. Teman saya bertanya kepada saya, apakah saya sudah menulis di blog, saya bilang kalau sudah tetapi seringnya mentok…tok…tok. ‘ Jangan berenti terusin..’. Saya bilang, “ lo kan udah dari dulu nulis di buku harian, yah  notabene lebih gampang kan”, terus dia menjawab sembari memukul lengan saya, “ itu mah lo aja yang males”. Saya hanya bisa nyengir sambil menjulurkan lidah.
Okay, kembali kepada pembicaraan awal.  Saya seringkali mempunyai ide untuk dicurahkan dalam bentuk tulisan tetapi sering kali hilang seperti ditiup angin.  Saya harap melalui awal menulis ini bisa menajdi suatu kebiasaan baik yang berkelanjutan tidak sekapeung atau hangat-hangat tahi ayam.  Nah kan, mentok ga tahu mau nulis apa lagi. Okay, saya ingat, kalau di social media yang mana biasa disebut sebagai sosmed, saya akan menaruh icon. “ Langkah pertama pasti sulit tetapi bukan berarti tidak bisa”, jadi mulailah saya memutuskan untuk menulis mumpung masih panas. Semoga kebiasaan ini boleh berakar serta bertumbuh dan berbuah yang menjadi berkat bagi yang membacanya. Saya baru bisa menulis sampai sini tetapi saya harap ini bisa menjadi awal yang baik.
Saya teringat pernyataan dari salah satu pembicara motivasi, JohnC. Maxwell, jika dia suatu saat dia teringat akan suatu hal atau idem aka dia selalu menuliskannya oleh karena itu dia selalu membawa buku kecil untuk menuliskan idenya dan dia melakukan review atau tinjauan ulang dan mulai melakukan klasifikasi dan mengelompokkan dari ide-ide yang sudah tercetus dan dituliskan. Jika ada salah satu ide-ide tersebut lebih mungkin untuk bisa ditelurkan dan ditetaskan maka mulailah dilakukan telaah dan mencari referensi. Metode  yang dilakukan oleh John C. Maxwell seperti menuliskan ide atau inspirasi saya sudah pernah membaca dan mendengar mengenai hal tersebut tetapi hanya seperti angin lalu saja, tahu tapi tidak pernah ada tindak lanjutnya. Saya akan coba lakukan apa yang kebanyakan para pembicara maupun penulis lakukan terhadap ide dan atau inspirasi yang mereka peroleh melalui mencatat setelah itu melakukan klasifikasi dan memutuskan pilihan mana yang akan di ‘erami’ sampai menetas selayaknya telur. Proses mengerami ini tidak berbicara hanya 1 jam atau 1 hari saja tetapi relatif, mungkin seperti teori relatifitas yang ditelurkan oleh Einstein yang mana saya juga tidak terlalu mengerti mengenai hal tersebut, tergantung seberapa sederhana atau kompleksitas dari ide tersebut.
Eh, mulai nge-link nih ide untuk menulis. Awal dari segala sesuatu mungkin sulit karena dilakukan banyak perubahan yang mana salah satunya adalah merubah kebiasaan atau membentuk kebiasaan yang baru. Saya mempunyai kebiasaan untuk berjalan pagi atau sore hari untuk meningkatkan stamina serta menjaga kesehatan badan. Jika orang-orang bertanya ataupun bercerita bagaimana sulitnya untuk memulai ada kecenderungan untuk berhenti sebelum sampai setengah jalan alias tidak meneruskan lagi, nyerah. Saya harus akui jika saat pertama itu sulit tetapi masih bisa dilakukan tingkat selanjutnya adalah menjadikan hal tersebut menjadi kebiasaan yang diawali dari intensitas atau frekuensi yang sejalan dengan waktu bergerak maju atau bertambah. Apakah hal ini mudah? Yah, seperti saya sudah utarakan sebelumnya, apakah hanya hangat-hangat tahi ayam? Kita pasti akan menggembar-gemborkan kalau kita sudah begini atau begitu kan? Namun setelah beberapa saat aka nada orang-orang disekeliling kita bertanya, ‘ Udah sampe mana lo kalo jalan? Atau ‘Masih jalan pagi lo?’ kemudian jawabannya seperti ini, ‘ Hmmmm, udah ngganih’, ‘ Gua sibuk’, ‘ Gua cape’ dan beribu alasan tercetus. Lantas teman-teman kita akan berkata,  Niat lo gimana katanya mo sehat? Niat kaga sih lo? Jika respon yang seperti itu kita terima apa yang akan kita lakukan, apakah melanjutkan kebiasaan berjalan atau tidak? Apakah melalui komentar-komentar tersebut memotivasi kita untuk tetap maju atau mundur. Saya pernah mendengan ada orang yang berkata, “ dalam hidup ini hanya ada dua langkah yaitu, melangkah maju atau melangkah mundur?” Nah kan, bingung sambil matanya melihat entah ke atas kiri atau kanan. Saya juga sama ketika mendengar hal tersebut, kemudian saya merenung, saya mendapati bahwa kita hanya bergerak maju dan jika tidak bergerak berarti kita mundur. Kenapa mundur? Kita kan hanya diam di tempat tidak bergerak, bagaimana bisa dikatakan mundur? Karena ada kecenderungan untuk tidak mau mengikuti keadaan sekelilingnya yang terus berjalan sementara kita hanya diam saja menjadi penonton yang tidak melakukan tindakan untuk ikut melangkah maju sehingga tidak perkembangan, maka hal ini bisa dikatakan kemunduran bukan?

Kita hidup dalam bumi yang berotasi pada porosnya serta dalam revolusi mengitari matahari, marilah kita melangkah maju mulai dari hal yang kecil atau sederhana. Semua dimulai dari satu langkah pertama dan inilah langkah ( pertama) saya yang mana bisa tetap berlanjut secara konstan.