Tadi pagi, ketika saya sedang di rumah saya, saya mendengar tetangga yang bersumpah serapah, marah disertai denga umpatan. Saya awalnya bingung ke mana arah pembicaraan tersebut. Saya mendengarkan saja, ternyata tetangga saya itu sedang membicarakan mengenai 'keributan' siapa yang akan memimpin wakil rakyat di pemerintahan. Saya tidak tahu dengan kondisi ini juga dibicarakan oleh orang-orang lain juga. Saya hanya mendengar, hampir semua orang di mana saya kenal itu membicarakan hal ini. Sebagian besar tidak membicarakan untuk hal yang baik tetapi lebih kepada umpatan atau keluhan bahkan kutukan. Ketika saya sedang menulis tulisan ini, saya secara tidak sadar memutuskan hubungan internet dan hal ini berdampak kepada hilangnya tulisan saya yang sebelumnya. Saya sebenarnyanpengen sekali mengumpat atau marah-marah tetapi karena tulisan ini, saya jadi malu sendiri. Saya tidak dapat bicara apa-apa lagi selain mengucap syukur. Saya hanya dapat tertawa dalam hati disertain perasaan gundah gulana. Situasi yang bisa timbul bersamaan dengan kondisi yang sedang dibicarakan dalam tulisan ini.
Kehidupan yang disertai dengan rasa syukur merupakan hal menyenangkan tetapi ketika dilakukan, apakah semudah kita mengatakannya? Kondisi kesehatan baik itu badan atau jiwa kita tergantung pada respon kita. Kita mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi jika mengeluh saja, sepertinya keluhan merupakan hal yang menyenangkan tetapi apa dampaknya terhadap badan dan jiwa kita. Pertanyaannya, jika kita berada dalam kondisi yang kurang menyenangkan, apa yang harus kita lakukan? Marah-marah atau mengucap syukur? Setiap orang akan mempunyai respon yang beda-beda terhadap kondisi ini tetapi hanya ada dua hal mendasar, mengikuti keinginan sendiri atau percaya kepada Tuhan.
Umumnya, setiap orang mengetahui dampaknya jika mereka marah-marah atau bersyukur. Sebagai contoh, saya dulu menderita sakit lambung alias maag. Setahu saya, di keluarga saya baik dari ayah maupun dari ibu tidak ada yang mengidap sakit maag ini. Penyebab dari sakit ini biasanya karena terlalu khawatir atau telat makan. Sakit ini dapat timbul dalam waktu cepat, kurang dari 10 menit, tetapi untuk menghilang butuh waktu lebih dari 10 menit bahkan bisa berhari-hari. Saya bukanlah superman dan hal ini sangat membuat kondisi yang tidak menyenangkan. Saya berusaha mencari tahu bagaimana mendapatkan kesembuhan dari sakit maag ini.
Keadaan yang tidak menyenangkan ini membuat kita berpikir mengenai sikap dan tindakan yang perlu kita lakukan. Setiap dari kita pasti pernah mengalami keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi kondisi tersebut? Jika kita hanya ingin mengikuti sesuai dengan keinginan kita saja atau mau menerima tetapi bukan menyerah. Kita terima dan berharap dalam dan berusaha untuk mendapatkan perubahan. Kita melihat berusaha, berusaha yang kita bicarakan ini bukan melakukan hal yang bertentang sehingga mendapatkan dampak kurang baik. Kita melakukan tindakan yang sesuai dengan iman kepercayaan kita. Percaya, atau iman, tanpa perbuatan pada hakekatnya tidak berdampak. Kita harus melakukan perbuatan atau tindakan yang mempunyai hasil, meskipun hal tersebut bisa dalam waktu singkat atau jangka panjang. Apakah kita ingat bahwa kita harus percaya pada Tuhan, seseorang yang menguasai dunia ini. Kita hanya perlu percaya saja dan mengikuti apa yang Tuhan ajar kepada kita.
Jadi kondisi ini, baik enak maupun tidak enak, sebaiknya kita mengucap syukur. Respon ini mempunyai dampak hidup lebih baik daripada respon yang sebaliknya. Mari, kita mengucap syukur dengan doa beserta tindakan yang sesuai.
Kehidupan yang disertai dengan rasa syukur merupakan hal menyenangkan tetapi ketika dilakukan, apakah semudah kita mengatakannya? Kondisi kesehatan baik itu badan atau jiwa kita tergantung pada respon kita. Kita mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi jika mengeluh saja, sepertinya keluhan merupakan hal yang menyenangkan tetapi apa dampaknya terhadap badan dan jiwa kita. Pertanyaannya, jika kita berada dalam kondisi yang kurang menyenangkan, apa yang harus kita lakukan? Marah-marah atau mengucap syukur? Setiap orang akan mempunyai respon yang beda-beda terhadap kondisi ini tetapi hanya ada dua hal mendasar, mengikuti keinginan sendiri atau percaya kepada Tuhan.
Umumnya, setiap orang mengetahui dampaknya jika mereka marah-marah atau bersyukur. Sebagai contoh, saya dulu menderita sakit lambung alias maag. Setahu saya, di keluarga saya baik dari ayah maupun dari ibu tidak ada yang mengidap sakit maag ini. Penyebab dari sakit ini biasanya karena terlalu khawatir atau telat makan. Sakit ini dapat timbul dalam waktu cepat, kurang dari 10 menit, tetapi untuk menghilang butuh waktu lebih dari 10 menit bahkan bisa berhari-hari. Saya bukanlah superman dan hal ini sangat membuat kondisi yang tidak menyenangkan. Saya berusaha mencari tahu bagaimana mendapatkan kesembuhan dari sakit maag ini.
Keadaan yang tidak menyenangkan ini membuat kita berpikir mengenai sikap dan tindakan yang perlu kita lakukan. Setiap dari kita pasti pernah mengalami keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi kondisi tersebut? Jika kita hanya ingin mengikuti sesuai dengan keinginan kita saja atau mau menerima tetapi bukan menyerah. Kita terima dan berharap dalam dan berusaha untuk mendapatkan perubahan. Kita melihat berusaha, berusaha yang kita bicarakan ini bukan melakukan hal yang bertentang sehingga mendapatkan dampak kurang baik. Kita melakukan tindakan yang sesuai dengan iman kepercayaan kita. Percaya, atau iman, tanpa perbuatan pada hakekatnya tidak berdampak. Kita harus melakukan perbuatan atau tindakan yang mempunyai hasil, meskipun hal tersebut bisa dalam waktu singkat atau jangka panjang. Apakah kita ingat bahwa kita harus percaya pada Tuhan, seseorang yang menguasai dunia ini. Kita hanya perlu percaya saja dan mengikuti apa yang Tuhan ajar kepada kita.
Jadi kondisi ini, baik enak maupun tidak enak, sebaiknya kita mengucap syukur. Respon ini mempunyai dampak hidup lebih baik daripada respon yang sebaliknya. Mari, kita mengucap syukur dengan doa beserta tindakan yang sesuai.
No comments:
Post a Comment