Thursday, June 20, 2013

yuks belajar dari jalanan

Kita lagi nyetir mobil nih, di Jakarta pula. Kita lagi enak-enak nyetir terus tiba-tiba ada motor lewat aja tiba-tiba terus bikin kaget gitu atau jalan kita diambil sama mobil atau bis, kita pasti spontan hajar tuh klakson sambil ngomel-ngomel, meski mobil kita ga keserempet. Jika mobil kita keserempet or terjadi pertemuan 'kasih' antara mobil kita dengan kendaraan lain pasti setelah itu terjadilah diskusi penuh dengan ungkapan jiwa deh. Yah, untuk pertemuan 'kasih' itu kita tidak mengharapkannya yah. Dan, yang lebih serem lagi katanya karakter orang tuh terlihat ketika dia ada dibelakang setir mobil alias nyetir.
Saya tidak tahu kalian setuju atau tidak yah, jika kita disalip entah itu motor atau mobil dan bis. Kita bisa saja kan untuk ngomel sedikit terus kita biasa aja lagi setelah itu yah biasa lagi. Saya tahu hal ini tidak mudah karena saya belajar ketika saya disupirin sehingga masalah dijalanan tidak pernah menghinggapi saya langsung, hanya ketika saya duduk disamping supir saja. Saya mendapat saran dari teman saya untuk tidak terlalu stres, saya belajar untuk tidak terlalu stres. Sekali lagi masalah di jalanan tidak menjadi masalah kecuali ketika saya kembali ke belakang setir yah. Hal menjadi sabar merupakan tantangan yang sangat menantang, ga segampang ketika disupirin deh. Saya hanya mengingatkan diri sendiri untuk tidak perlu ngoceh atau ngomel yang ga perlu karena ga ada gunanya juga yah, tuh pengendara di depan atau dimana pun dia berada ga mendengar kita juga kan, kecuali kita buka kaca terus koar-koar deh abis itu bisa kejadian 'pertemuan mengesankan'. Kita pasti bisa ngoceh dengan berkesinambungan jika hati sendang tidak enak terus apapun bisa jadi ocehan karena lagi 'bad mood'. Saya ga bisa nyalahin kalo situasi 'bad mood' itu terjadi yah meski kita bisa melakukan pilihan dalam hidup ini mo ngapain. 
Akhirnya saya bisa lah sedikit demi sedkit untuk ga terlalu panjang ngomelnya, meski perlu usaha yah bukan langsung kejadian blus dari atas turun ke hati dan pikiran kita sekali lagi usaha. Saya sih pasang radio entah dengerin guyonan atau lagu yang menenangkan jiwa meski hal-hal tersebut tidak sepenuhnya menghilangkan ocehan kita tetapi paling ngga ngurangin intesitas dan lamanya ocehan. Yah, namanya usaha bagian dari belajar deh. 

Jika kita diserobot pasti kita ngoceh juga kan, coba kita inget lagi, apakah kita seperti itu atau ngga? Jika kita seperti itu berarti kita juga diocehin sama orang yang jalanannya diserobot sama kita kan... bener apa betul? 
Kita itu terlalu banyak serobot sana serobot sini, padahal beda waktu sampainya hanya sedikit kalo diukur mah ga sampe kali sejem mah atawa sepuluh menit. Hidup dari memberi, yah itu yang saya gunakan di jalanan, karena kali kita memberi ketika kita perlu kita akan diberi sama orang yang sama sekali kita ga kenal. Kenapa kita ga jadi berkat bagi orang lain dengan hal simpel saja, ngasih jalan. Situasi serabat serobot ini sudah menjadi guyonan, ' coba  lo liat, pasti plat nomor B tuh', meski tidak selalu plat nomor itu yang nyerobot yah.

Hidup ini kan untuk belajar, menjadi manusia pembelajar kata Andrias Harefa, jadi kita belajar lah untuk menjadi lebih baik dengan jadi berkat dari ngilangin ocehan dan memberi jalan.

Ilmu padi

Waktu saya kecil, ayah saya pernah bilang bahwa jika kita sudah besar dan sukses, kita harus pakai ilmu padi. Ayah saya menjelaskan, ilmu padi itu seperti padi, padi itu semakin berisi semakin merunduk tidak berada di atas lagi. Jangan sombong, tetaplah rendah hati, begitu katanya lagi. 
Petuah tersebut sudah lama diberitahukan kepada saya, mungkin pada saat saya masih SD. Saya berjalan dalam hidup ini sudah lebih dari seperempat abad, ternyata petuah tersebut bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk diterapkan apalagi dalam kehidupan yang semakin 'ganas' untuk saling menunjukkan diri. Setiap orang boleh saya katakan, ingin menunjukan 'gigi'-nya bahwa dia ada atau eksis lah di dalam segala hal.  Saya pernah bekerja sebagai seorang penjual, karena memang itu pekerjaan saya, dengan situasi yang membuat saya 'penting' karena jumlah surel yang buanyak sehingga bikin pusing plus telpon yang selalu berdering sampai saya kewalahan dalam menjawabnya. Situasi ini tidak sama lagi ketika saya pindah ke perusahaan lokal dengan situasi 180 derajat berbeda. Situasi 'saya orang penting' menjadi situasi 'siapa lo'. Saya mungkin 'orang penting', tetapi saya menjadi 'bukan siapa-siapa lagi'. Saya punya pengalaman, bertemu dengan banyak orang, telah belajar banyak hal tetapi keadaan itu tidaklah bisa diterima oleh orang-orang yang ada ditempat saya berkerja sekarang. 
Saya berontak dalam diri saya, saya bercerita kesana kemari. Tetapi, tetap saja saya tidak mendapatkan apa yang saya mau yaitu keinginan menjadi 'orang penting'. Saya tidak dapat menyalahkan mereka karena sikap mereka karena mereka mempunyai paradigma yang berbeda dan juga mereka tidak tahu latar belakang saya juga kan. Saya tetap 'mengomel' ke teman saya dengan harapan dia akan mendukung saya. Saya terus mengoceh hal yang sama sampai pada suatu titik teman saya  berkata, 'Sudahlah, lo ikutin saja kemauan mereka dan lo belajar deh hal lain selama lo masih ada waktu'. 'Toh, lo sekarang punya waktu lagi untuk lo melakukan hal lain juga kan salah satunya belajar atau lakukan trial kan', kata teman saya lagi. Sewaktu saya mendengar jawaban teman saya, saya berpikir ternyata bener juga yah. Saya itu  selalu melihat yang saya ingin lihat bukan melihat dari sisi yang lain dan hal lainnya adalah belajar bersyukur. 
Saya mulai berkerja dengan naik kendaraan umum, suatu situasi yang berbanding terbalik dengan situasi sebelumnya. Situasi ini yang membuat saya melihat dari sisi yang lain, yaitu bersyukur. Saya belajar untuk menjadi seseorang yang biasa saja dan rendah hati. Kerendahan hati hanya bisa kita peroleh ketika kita sudah tidak menganggap diri kita lagi, alias tuh ego disangkal. Hal tersebut tergerus sedikit demi sedikit ketika di angkot atau di bis, kaki terinjak, kesengol orang yang lewat dan banyak hal lainnya. Pada awalnya saya marah, tetapi saya kan tidak mungkin marah untuk hal seperti itu kan? Jika kita marah, untuk apa juga tidak penting dan hal sepele kecuali kita egois yah. 
Ilmu padi, rendah hati, itu yang harus kita praktekan dalam setiap hal dalam kehidupan kita. Kita harus bisa mengingat bahwa kesombongan itu awal dari kejatuhan.

akhirnya..ketemu lagi...

Saya sudah lama tidak menulis di blogger saya. Saya terakhir menulis sekitar tahun 2009 dan itu pun hanya karena iseng saja maka saya mnulis lagi deh. 
siang ini saya bertemu teman saya dari perusahaan sebelumnya. Kami hanya berbincang-bincang lewat secara online. dia membagikan tentang tulisan yang sering dia bagikan lewat blog dia. 
nah... akhirnya saya baru ingat kalo saya itu punya blog tetapi saya sudah lupa alamat dan juga di mana saja. saya pun bahkan baru ingat, bukan baru tahu yah, kalo saya punya akun di flickr. saya ga tau deh isitilah ini apa, entah pikun atau kebanyakan kerjaan atau apapun istilahnya itu. 
saya dulu punya blog dengan nama aloey.blogspot.com, tetapi karena ngga pernah saya kunjungi sekarang saya tidak tahu bagaimana saya bisa mengaksesnya pula. blog inilah yang saya buat baru, meski saya masih pengen pake nama itu yah. saya kira kita mulai yang baru saja deh, mengubah semuanya, hmmmm sebagian sebenernya mah. 

okay.. kita mulai lagi yang dulu saya pernah kerjakan beberapa tahun yang lalu...