Thursday, June 20, 2013

Ilmu padi

Waktu saya kecil, ayah saya pernah bilang bahwa jika kita sudah besar dan sukses, kita harus pakai ilmu padi. Ayah saya menjelaskan, ilmu padi itu seperti padi, padi itu semakin berisi semakin merunduk tidak berada di atas lagi. Jangan sombong, tetaplah rendah hati, begitu katanya lagi. 
Petuah tersebut sudah lama diberitahukan kepada saya, mungkin pada saat saya masih SD. Saya berjalan dalam hidup ini sudah lebih dari seperempat abad, ternyata petuah tersebut bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk diterapkan apalagi dalam kehidupan yang semakin 'ganas' untuk saling menunjukkan diri. Setiap orang boleh saya katakan, ingin menunjukan 'gigi'-nya bahwa dia ada atau eksis lah di dalam segala hal.  Saya pernah bekerja sebagai seorang penjual, karena memang itu pekerjaan saya, dengan situasi yang membuat saya 'penting' karena jumlah surel yang buanyak sehingga bikin pusing plus telpon yang selalu berdering sampai saya kewalahan dalam menjawabnya. Situasi ini tidak sama lagi ketika saya pindah ke perusahaan lokal dengan situasi 180 derajat berbeda. Situasi 'saya orang penting' menjadi situasi 'siapa lo'. Saya mungkin 'orang penting', tetapi saya menjadi 'bukan siapa-siapa lagi'. Saya punya pengalaman, bertemu dengan banyak orang, telah belajar banyak hal tetapi keadaan itu tidaklah bisa diterima oleh orang-orang yang ada ditempat saya berkerja sekarang. 
Saya berontak dalam diri saya, saya bercerita kesana kemari. Tetapi, tetap saja saya tidak mendapatkan apa yang saya mau yaitu keinginan menjadi 'orang penting'. Saya tidak dapat menyalahkan mereka karena sikap mereka karena mereka mempunyai paradigma yang berbeda dan juga mereka tidak tahu latar belakang saya juga kan. Saya tetap 'mengomel' ke teman saya dengan harapan dia akan mendukung saya. Saya terus mengoceh hal yang sama sampai pada suatu titik teman saya  berkata, 'Sudahlah, lo ikutin saja kemauan mereka dan lo belajar deh hal lain selama lo masih ada waktu'. 'Toh, lo sekarang punya waktu lagi untuk lo melakukan hal lain juga kan salah satunya belajar atau lakukan trial kan', kata teman saya lagi. Sewaktu saya mendengar jawaban teman saya, saya berpikir ternyata bener juga yah. Saya itu  selalu melihat yang saya ingin lihat bukan melihat dari sisi yang lain dan hal lainnya adalah belajar bersyukur. 
Saya mulai berkerja dengan naik kendaraan umum, suatu situasi yang berbanding terbalik dengan situasi sebelumnya. Situasi ini yang membuat saya melihat dari sisi yang lain, yaitu bersyukur. Saya belajar untuk menjadi seseorang yang biasa saja dan rendah hati. Kerendahan hati hanya bisa kita peroleh ketika kita sudah tidak menganggap diri kita lagi, alias tuh ego disangkal. Hal tersebut tergerus sedikit demi sedikit ketika di angkot atau di bis, kaki terinjak, kesengol orang yang lewat dan banyak hal lainnya. Pada awalnya saya marah, tetapi saya kan tidak mungkin marah untuk hal seperti itu kan? Jika kita marah, untuk apa juga tidak penting dan hal sepele kecuali kita egois yah. 
Ilmu padi, rendah hati, itu yang harus kita praktekan dalam setiap hal dalam kehidupan kita. Kita harus bisa mengingat bahwa kesombongan itu awal dari kejatuhan.

No comments:

Post a Comment